Merdeka…!!! Indonesiaku…..

Merdeka…!!!!!! Itulah kata yang sangat hebat dan menggetarkan perasaan takkala dipekikan dari dahulu kala hingga sekarang.

Tapi sekarang tidak setiap orang bisa memaknai kemerdekaan ini. Tidak bisa menghargai betapa beratnya perjuangan para pejuang dulu untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia ini.  kebanyakan generasi muda sekarang hanya menyambut acara ulang tahun kemerdekaan ini hanya sebagai upacara saja. Mereka mengikuti acara upacara 17 agustus kadang dengan sangat terpaksa karena panas, capek, dan lainya. Dan sebagian besar terutama pelajar tidak memperhatikan atau menghayati jalanya upacara kemerdekaan ini.

Padahal seperti kita tahu, betapa beratnya perjuangan leluhur kita dahulu kala. Sejak Belanda menjajah indonesia pada jaman kerajaan-kerajaan nenek moyang kita sudah dengan sekuat tenaga dan hati tulus memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada awalnya hanya bersifat kedaerahaan saja, seperti perjuangan pangeran Diponegoro, Tuanku Imam Bonjol, Pattimura, Cut Nya’ Dien dan lainya. Mereka berjuang tanpa pamrih. Rela mengorbankan segalanya, harta, kedudukan, keluarga demi satu tujuan yaitu mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

Begitu pula waktu perjuangan masa nasionalisme. Saya sempat berdiskusi dengan salah satu veteran pejuang di ambarawa.  Diceritakan betapa beratnya perjuangan waktu itu. harus berpisah dari keluarga tercinta dan hidup di tengah hutan. waktu itu sebagian besar wilayah jawa tengah masih berupa hutan atau pedesaan. Tapi hati tada gentar menghadapi musuh. Siap mati demi negara. maju terus pantang mundur diantara teman-teman seperjuangan yang gugur disampingnya. Tidak rela penjajah masih bercokol di bumi pertiwi tercinta. Hari demi hari dijalani dengan tanpa pamrih sama sekali. Tidak mengharapkan imbalan jabatan atau bayaran jika kelak penjajah telah terusir. Tiada rasa gentar apalagi takut menghadapi musuh.

Setelaha merdeka, beliau dan beberapa rekanya tersingkirkan. Tidak dipandang atau dihargai oleh sipapun, lingkungan ataupun pemerintah. beliau hanya menempati rumah dari anyaman bambu. Sedangkan sekelilingnya rumah-rumah tembok berdiri. Sungguh ironis sekali, beliau yang dulu mati-matian dan selalu digaris depan memperjuangkan kemerdekaan sedang lainya hanya bersembunyi dirumah, nasibnya sekarang seperti ini. Untunglah semenjak reformasi pemerintah telah mengakuinya bahwa beliau adalah pejuang. Dan mendapatkan santunan ala kadarnya walau masih dikatakan jauh dari layak. Tetapi memang beliau iklas tidak menghapkan imbalan atau belas kasihan dari siapapun. karena penilaian bukan dari orang tetapi dari Sang Pencipta. Beliau sudah bangga musuh atau penjajah telah hengkang dari bumi pertiwi.

Sebegitukah kita menghargai nilai perjuangan para pahlawan? Tanpa mereka mungkin nasib bangsa ini belum tentu seperti ini. BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI PAHLAWANYA.

Mari kita belajar hidup bersahaja dari pejuang tadi. Masak hanya mengikuti upacara saja kita sudah male-malesan. bagaimana seandainya kita dihadapkan di sutuasi seperti perang dahulu. Apakah kita berani dan siap mati menghadapi musuh atau lari sembunyi dibawah kolong tidur? lha menghadapi terik matahari satu jam saja sudah berkeluh kesah. Apalagi menghadapi musuh yang siap menerkam kita dan tidur di hutan. sanggupkah kita?

Sekarang kita maknai kemerdekaan ini dengan berjuang membangun bangsa ini. Banyak cara membangun bangsa. bagi yang masih sekolah belajar yang rajin dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya main perang di play station yang jika perang sungguhan belum tentu berani. Bagi aparat pemerintahan, jangan abaikan amanah para pejuang kita dahulu. Ingat mereka pertaruhkan nyawa tanpa pamrih. Jangan setelah negeri ini merdeka malah diobrak-abrik lagi dengan korupsi. Tentu para pejuang jika mengetahui negeri ini jadi sarang korupsi akan menagis dan tidak rela. mari kita ciptakan aparatur negara yang bersih iklas melayani masyarakat. Bagi pengusaha ciptakan suasana kerja yang harmonis. Jangan semata-mata punya uang lalu bisa berbuat seenaknya. Tebang hutan dimana-mana, sogok sana sini demi melicinkan proyek. Apalah jadinya jika proyek-proyek di negeri ini berjalan karena sogok menyogok. Yang seharusnya pembanguna sudah maju uangnya habis buat sogokan. Mari dengan iklas membangun negeri ini.

Terakir kita harus menghargai pahlawan baik yang sudah gugur maupun yang masih hidup. Jangan kita memandang pahlawan yang masih hidup dengan sebelah mata. Mereka tidak mengharapkan apapun. Kita ajak ngobrol berdiskusi meraka akan sangat senang. Karena mereka ada yang memperhatikan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawanya.

Tinggalkan Balasan

Silahkan Masukan jawaban pertanyaan ini, tulis dalam ANGKA saja *