BPJS, adalah program pemerintah yang dilaksanakan untuk indonesia lebih baik. Biar masyarakat bisa terlayani kesehatanya dengan baik. Semua lapisan masyarakan bisa tercover dengan layanan kesehatan yang memadai.

Namun diatara program pemerintah ini masih ada pro kontra yang terjadi di masyarakat. beberapa kendala dilapangan banyak sekalai terjadi. Semenjak BPJS diterapkan, antrian di RS sangat banyak, bahkan seringkali RS kehabisan ruang karena saking banyaknya pasien.

Namun tahukan anda, bahwa sekali anda terdaftar di BPJS maka seumur hidup tidak bisa keluar?
Ini berarti ikatan abadi yang dilakukan oleh pemerintah. Artinya apa? Sekali anda daftar, iuran akan terus ditagihkan walau anda sudah lama tidak aktif (max 12 kali, plus 1 saat akan perpanjang).
Ini sangat jauh beda dengan asuransi biasa. Jika asuransi biasa, anda tidak membayar, maka otomastis kepsertaan akan hilang / gugur. Walau di term and condition ada ketentuan minimal 12 bulan. Tapi jelas ada ketentuan waktu.
Di BPJS, jika anda ada anggota keluarga yang meninggal dan tidak dipalorkan, maka tagihan akan tetap jalan terus. Dan menjadi hutang oleh yang sudah meninggal tersebut.

Hak-hak pasien juga tidak dijelaskan saat akad pendaftaran di BPJS. Seperti hak untuk medapatkan dokter spesialis, hak kelas obat, dan lain sebagainya.

Saya ada pengalaman pribadi.
Dahulu saat BPJS di launching, saya dengan penuh semangat mendaftar sebagai peserta mandiri untuk 3 orang dan di kelas 1. iuran beberapa tahun berjalan lancar.
Saat istri mengandung, periksa di kinik kandungan tidak di cover BPJS, terpaksa harus beli obat harganya jutaan tiap minggu.
Saat istri ada masalah, pecah ketuban di usia kandungan 6 bulan, sama dokter spesialis klinik tersebut dirujuk ke RS Swasta. Dan di RS tersebut tervover BPJS.
Selama 2 minggu di RS, tidak ada dokter spesialis satupun yang visit. Padahal saya tahu dokter klinik yg merujuk tsb praktek di RS tersebut dan tiap hari hadir.
Sebagai pasien, tentu ingin bertanya2 kepada ahlinya soal perkembangan pasien.
Saya tanya2 teman yg kerja di RS, dia bilang kalau di RS pemerintah memang tdk berhak dapat dokter spesialis. Kecuali kondisi emergency spt operasi atau naik kelas ke paviliun. Tp dia gak tahu jika di RS swasta.

Nah karena kecewa dengan BPJS, maka saya berniat keluar. Tidak saya bayarkan iuran selanjutnya. Dengan harapan saya di hubungi oleh staff BPJS yang di daerah. Namun tdk ada ada hubungan.
Saat ini, setalah dua tahun, saya mendaftar sebagai salah satu fasilitator (tdk lolos hihihi). Salah satu syaratnya adalah punya BPJS.
Saya pikir bener juga dan berniat untuk ikut lagi BPJS. Tapi setelah mau daftar tidak bisa. Masih ada tagihan 3,150,000 satu keluarga yang harus dilunasi dulu.
Karena kondisi ekonomi pada saya saat ini, blm mampu dg tagihan itu. Dan itu system, jadi mau gak mau spt itu, system tdk bisa melihat real di lapangan, system iu saklek, saya faham soal ini.
Sampai saat ini blm bisa menggunakan BPS karena blm membayar tagihan tsb.

Jadi kesimpulanya, setelah ikut BPJS tidak akan bisa berhenti apapun alasanya.
Disini saya tidak kontra dg BPJS, juga malah menyarankan kalau mampu sebaiknya ikut saja BPJS. Dengan niat membantu sesama.
Kalau saya mampu pun, akan saya bayarkan itu tagihan BPJS. Suatu saat nanti…..