Bus ESTO Salatiga, transportasi sejak jaman belanda

Di tahun-tahun 1980-an, saat saya masih duduk di bangku SMA, setiap kali bolos dan main ke Ambarawa, Suruh maupun Bringin, saya selalu memanfaatkan bus ESTO. Dengan warna khasnya, yakni hijau, body didominasi kayu serta mesin tua yang kerap terbatuk-batuk di perjalanan, membuat penumpangnya ngantuk. Ketika itu warga menyebutnya “kodok ijo”.

Kenapa disebut “kodok ijo”? Karena bus ini unik, selain warnanya hijau tua, bentuk kendaraannya memiliki moncong di bagian depan (tidak seperti bus sekarang), pintu depan ada di samping kiri sedang pintu satunya berada di belakang (bukan di samping). Kursi duduknya dibuat dari kayu jati tua, sementara interior nyaris didominasi berbahan kayu. Mungkin, semisal masih tersisa, harganya ratusan juta rupiah saking antiknya.
Di tahun 80-an, tarif yang saya ingat bagi anak sekolah sekitar Rp 10 untuk jarak 15-20 kilometer (Ambarawa, Bringin, dan Suruh). Di belakang pengemudi, terdapat sekat yang berfungsi sebagai pembatas penumpang. Di samping bagian atas pengemudi, ada tulisan mencolok berbunyi : Dilarang Bicara Dengan Sopir. Saya menduga peringatan tersebut dipasang sejak jaman kolonial Belanda.

ESTO merupakan perusahaan otobus legendaris di Salatiga yang telah berdiri sejak jaman penjajahan Belanda dan hingga sekarang masih bertahan.

Cikal bakal ESTO adalah perusahaan transportasi pertama di Salatiga yang didirikan pada 1921 oleh Kwa Tjwan Ing. Nama ESTO diberikan pada tahun 1923. ESTO merupakan singkatan dari Eerste Salatigasche Transport Onderneming (Perusahaan Transportasi Pertama Salatiga).

Bus ESTO beroperasi sejak 1921 diawali dengan menggunakan armada bus kecil yang melayani rute Salatiga-Bringin dan Salatiga-Tuntang. Pada masa itu Bringin dan Tuntang merupakan ibukota kecamatan yang cukup ramai karena memiliki stasiun kereta api yang menghubungkannya dengan kota-kota lain seperti Semarang, Purwodadi, Ambarawa, Secang, Kedungjati dsb. Sedangkan Salatiga tidak memiliki jalur kereta api, sehingga masyarakat Salatiga yang ingin bepergian dengan kereta api harus pergi ke stasiun terdekat yaitu Tuntang atau Bringin. Bus ESTO mungkin bisa dikategorikan sebagai angkutan pengumpan yang mengantar penumpang ke angkutan massal berikutnya.

Generasi pertama bus ESTO hanya berkapasitas sekitar 18 hingga 20 penumpang. Tempat duduknya dibagi dua. Bagian tempat duduk di depan diberi jok bagus, khusus untuk orang Belanda. Sementara tempat duduk di bagian belakang menghadap ke belakang dan dibuat dari rotan, diperuntukkan bagi orang-orang pribumi. Karena fasilitasnya lain maka ongkosnyapun berbeda. Pada masa itu masih terlihat jelas diskriminasi terhadap orang-orang pribumi.

Tahun 1930 Kwa Tjwan Ing mewariskan perusahaan ESTO ini kepada putranya, Kwa Hong Po (Winata Budi Dharma). Di masa ini bus ESTO berkembang pesat dan melayani rute Semarang, Solo, Magelang Sragen, Purworejo, Kutoarjo, Kendal, Kudus, dan Pati. Namun akibat krisis ekonomi global yang terjadi tahun 1930-an bus ESTO mengalami kesulitan keuangan sehingga banyak armadanya yang dijual untuk membayar hutang. Karena armadanya tinggal beberapa saja maka sebagai konsekuanesinya bus ESTO hanya dapat melayani rute Bringin, Suruh, Ambarawa, dan Tuntang saja.

Setelah melewati berbagai krisis selama beberapa dekade, sekarang bus ESTO masih bisa bertahan, tetapi hanya mampu melayani rute Salatiga-Ambarawa saja. Nampaknya sang pemilik tidak berencana lagi untuk mengembangkan bus ESTO, mungkin beliau hanya sekedar berusaha mempertahankan sejarah. Namun demikian walau bagaimanapun upaya beliau tersebut tetap patut kita apresiasi.

Bengkel ESTO yang sekarang jadi garasi

 

Sumber:
http://www.kompasiana.com/bamset2014/bus-esto-sarana-transportasi-zaman-kolonial-yang-masih-bertahan_570b7dc25793732f0a7ee1af

http://www.kompasiana.com/purwanti_asih_anna_levi/esto-bus-legendaris-salatiga_54f35dc3745513982b6c731d

Eddy van de Wal, http://www.salatiga.nl
Agus Wilopo, http://aguswilopo.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Silahkan Masukan jawaban pertanyaan ini, tulis dalam ANGKA saja *