Rawa Pening di Ambarawa dan Kejadian Nyata 1838, Fort Willem I, Benteng Penakluk Perang Jawa

Danau Rawa Pening adalah danau pegunungan yang berada di Ambarawa. Kini, danau Rawa Pening menjadi salah satu tujuan wisata di wilayah Semarang. Di sebelah barat dekat danau Rawa Pening terdapat benteng VOC yang disebut Fort Willem I. Pada masa doeloe, rawa besar ini menjadi bagian tak terpisahkan dengan benteng besar ini. Dan, adakalanya, Rawa Pening dikaitkan dengan suatu legenda.

Danau Rawa Pening luasnya sekitar 2.600 Ha. Ada sebanyak empat kecamatan yang memiliki akses ke danau: Ambarawa, Banyubiru, Bawen dan Tuntang. Danau Rawa Pening berada di cekungan tiga gunung: Merbabu, Telomoyo, dan Ungaran. Menurut sebagian warga setempat, danau Rawa Pening memiliki kisah sendiri (legenda) yang diceritakan secara turun temurun.

Peta 1897: Fort Willem dan Rawa Pening

Okelah, legenda Rawa Pening adalah hal lain. Dalam hal ini, sejarah danau Rawa Pening tentu saja menarik perhatian. Tidak hanya karena danau ini memang indah tetapi juga keberadaan benteng Fort Willem I di dekatnya. Benteng ini adalah tulang punggung bagi VOC dan Pemerintah Hindia Belanda dalam Perang Jawa. Bagaimana danau Rawa Pening terbentuk dan mengapa benteng Fort Willem I didirikan perlu ditelusuri. Mari kita lacak

Kejadian Rawa Pening 1838

Keberadaan Ambarawa kali pertama dilaporkan di surat kabar pada tahun 1829. Disebutkan oleh Residen Semarang, P Le Clereq bahwa pada tanggal 20 September 1829 di pasar Kaliwoengoe en Ambarawa akan ada pertandingan adu ternak di rumah Bupati yang dimulai pada pukul 10 pagi (lihat Javasche courant, 15-09-1829). Pengumuman ini mengindikasikan bahwa Ambarawa adalah ibukota kabupaten (afdeeling) yang cukup ramai. Jumlah desa di Afdeeling Ambarawa sebanyak 119 buah (berdasarkan Natuurkundig tijdschrift voor Nederlandsch-Indi, 1875).

Dalam Peta 1705 Ambarawa sudah terpetakan sebagai jalur militer VOC dari Semarang ke Cartasoera. Dengan kata lain sebelum pengumuman di surat kabar tersebut, Ambarawa sudah dikenal oleh pihak asing lebih dari satu abad.

.

Sembilan tahun setelah pengumuman di surat kabar, pada tahun 1938 terjadi suatu kejadian di Ambarawa. Dilaporkan Algemeen Handelsblad. 13-10-1838 bahwa terjadi semburan air dari dalam tanah yang menyebabkan Rawa Pening meluap. Akibat luapan ini dusun Rawa Siwel tenggelam. Tidak terdapat korban jiwa dan ternak yang hilang juga tidak terlalu signifikan.

Tidak diketahui secara jelas seberapa besar semburan air ini. Dari laporan ini menenggelamkan sebuah dusun tentu saja cukup besar. Namun demikian, tidak diketahui seberapa luas luapan itu. Sudah barang tentu luapan itu tidak seluas danau Rawa Pening yang sekarang. Mengapa? Pada tahun 1850 muncul usulan untuk membuat bendungan di Toentang yang memanfaatkan air di Rawa Penung (Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 17-01-1850). Pemerintah telah memberi wewenang untuk pengairan yang terhubung dengan pembangunan bendungan sungai Toentang yang jumlahnya sebesar ƒ391.306 (Leydse courant, 16-04-1852). Pada tahun 1862 air benar-benar tinggi di Rawa Pening yang menyebabkan debit Kali Toentang menjadi besar lalu kemudian menerjang sejumlah bendungan di hilir yang mengakibatkan banjir besar di Semarang (Bataviaasch handelsblad, 08-03-1862).

Java-bode, 04-11-1865

Berita tentang Rawa Pening baru muncul pada tahun 1865 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-11-1865). Dilaporkan bahwa pada pagi hari tanggal 22 Oktober pukul 9.16 terjadi guncangan gempa di Ambarawa dan pada keesokan paginya tanggal 23 pukul 2.45 guncangan gempa terjadi lagi pada arah normal. Sementara di Banjoebiroe, orientasi ini lebih ke arah selatan daripada sebelumnya. Guncangan ini diikuti oleh gemuruh di bawah tanah yang tidak berat tetapi berlangsung terus-menerus, yang berulang kali. Rawa Pening tampak dalam kondisi normal.

www.telomoyo.com

Pada tahun 1877 terjadi banjir bandang secara tiba-tiba pada tanggal 1 Maret di Ambarawa. Angin kencang dan hujan deras selama lima hari sebelum kejadian diduga menjadi peringatan. Pada pagi hari kejadian hujan semakin deras dan kali Panjang meluap. Jembatan lengkung besar di perkampungan Tionghoa ambruk dan sebuah rumah lalu terseret ke arah jembatan besar Kali Panjang. Debit air yang semakin meninggi akibat terbendung di jembatan akhirnya pilar tengah jembatan lenyap yang menyebabkan sebanyak 70 rumah di hilir terseret arus di sepanjang kali Panjang di kampong Warong Lanang. Terdapat 73 korban jiwa yang mana kemarin ditemukan 23 kebanyak wanita dan anak-anak. Sisanya diduga hanyut dan hilang di dasar Rawa Pening. Residen dan Insinur BB telah datang meninjau selanjutnya Insinyur BB dan Luitenent der Chineese pergi ke Rawa pening untuk memeriksa situasi dan kondisi rawa (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 09-03-1877).

Terjadinya luapan/semburan air di Rawa Pening dan banjir bandang di Kali Panjang adalah dua hal (kejadian) yang berbeda. Hanya saja air bah/banjir bandang memang menuju rawa (Rawa Pening). Kejadian ini terus berulang, air dalam rawa dapat meninggi sewaktu-waktu sehingga mengakibatkan luapannya jatuh ke Kali Toentang yang pada gilirannya membanjiri Kota Semarang. Fungsi reservoir Rawa Pening berjalan baik tetapi luapan air yang bersumber dari banjir bandang dari Kali Panjang tidak menyelesaikan masalah bagi Kota Semarang. Sebagai konsekuensinya, muncul ide pembangunan kanal timur Semarang. Lihat juga dalam blog ini: Sejarah Semarang (6): Banjir Kanal Barat Semarang 1879; Banjir Kota yang Tidak Berkesudahan Picu Bangun Kanal Timur.

Fort Willem I

Benteng (fort) di Ambarawa disebut Fort Willem I. Benteng ini dibangun tahun 1838 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-10-1884). Peletakan batu pertama dilakukan oleh Pangeran Hendrik. Benteng ini diberi nama Willem I untuk menghormati kakek Pangeran Hendrik. Benteng ini terdiri dari empat bastion yang di dalamnya terdapat barak tentara, penginapan para perwira, rumah sakit dan bangunan lainnya. Di sebelah barat benteng terdapat pemukiman dan di sebelah timur sebuah rawa besar yang ditutupi oleh tanaman air yang disebut Rawa Pening.

Rawa Pening, 1929

Lembah ini memiliki bentuk bulan sabit, sisi cembung yang menghadap utara ke timur; memiliki panjang 8 pal, dan lebar 4 pal dan terbagi oleh hampir tiga tumpukan dari utara ke selatan, dari timur ke barat sekitar 2 tumpukan rawa lebar dibagi di bagian timur dan barat, yang hanya terhubung melalui garis-garis sempit ke utara dan selatan rawa, yang bekas membawa kereta api. Lembah ini tertutup antara tulang rusuk yang menghubungkan Merbabu dan Telomoja dengan Ugaran. Semua perairan di lereng sekitarnya, yang perlahan-lahan turun ke lembah, berkumpul di Rawa Pening (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 25-10-1884).

Fort Willem I adalah benteng yang diperkuat pada tahun 1838. Beberapa tahun sebelumnya (dalam Perang Jawa/Diponegoro 1825-1830) benteng ini adalah poros pertahanan Belanda di sekitar wilayah. Poros pertahanan sekunder berada di Toentang untuk wilayah timur (Demak) dan wilayah selatan (Soerakarta). Bagaimana strategi perang Belanda di wilayah ini dideskripsikan secara lengkap dan detai dalam buku: ‘De verdediging van Nederlandsch Indie, gevolgd door eene proeve van een stelsel van verdediging voor onze bezittingen in den Indischen Archipel’, 1863.

Kejadian Rawa Pening 1885

Sebagian besar warga di sekitar Rawa Pening tidak ingat lagi kejadian Rawa Pening 1838, suatu kejadian yang aneh di lokasi Rawa Pening. Tentu saja mungkin warga tidak mengetahui bahwa pada tahun yang sama dilakukan peletakan batu pertama benteng oleh Pengeran Hendrik di Ambarawa dekat danau yang dikenal kemudian benteng Fort Willem I. Pada tahun 1885 terjadi lagi kejadian aneh di lokasi Rawa Pening. Kejadian apakah itu?

Bataviaasch handelsblad, 14-03-1885

Dalam sebuah berita yang dikutip Bataviaasch handelsblad, 14-03-1885, Insinyur Stoop pada tanggal 2 Maret lalu tidak perlu dikhawatirkan tentang gunung berapi, Gunung Merapi di Jawa Tengah. Tidak ada ada perubahan yang terjadi sampai saat ini. Sementara Residen Probolinggi melaporkan tanggal 12 Meret ini gunung berapi, Gunung Lamorgan di Proboünggo terdengar suara gemuruh yang mana pasir dan batu telah dikeluarkan dari kawah gunung, tanpa menyebabkan kerusakan.

Mengacu pada berita tersebut, Bataviaasch handelsblad, 14-03-1885 mengabarkan lebih lanjut telah terjadi fenomena aneh (lagi) di Rawa Pening, dekat Ambarawa. Disebutkan di dalam rawa sebuah pulau terbentuk pada awal bulan, setelah sebelumnya terdengar suara berisik diamati berasal dari tengah rawa. Terdengarnya suara berisik (gemuruh) di rawa dan terbentuknya pulau sebagaimana dikutip Bataviaasch handelsblad, 14-03-1885 adalah sebuah fenomena tetapi bukanlah hal yang baru, karena disebutkan Jung Huhn telah memberi penjelasan tentang fenomena semacam itu pada tahun 1838. Insinyur pertambangan Stoop telah memeriksa di dalam rawa bahwa ditemukan suatu proses pembusukan tanaman dalam jumlah besar di dalam tanah yang memberikan perkembangan kenaikan karbon dioksida di dalam tanah yang tidak mampu dilepaskan ke udara sehingga menimbulkan pembekakan di dalam tanah di dasar rawa lalu proses alam ini mampu mengangkat lapisan tanah atas, sampai akhirnya tanah ini muncul ke permukaan rawa yang mana kenaikan permukaan tanah tersebut diatasanya diselimuti oleh lapisan tanah gambut semi cair yang cukup tebal.

Pembentukan pulau di tengah Rawa Pening pada tahun 1885 ini telah menjelaskan fenomena yang terjadi pada tahun 1838. Pada kejadian tahun 1838 diduga telah terjadi pembentukan pulau di tengah rawa yang mana disebut telah terjadi semburan air rawa yang mengakibatkan luapan air sehingga sebuah dusun teenggelam. Ini semacam proses alamiah yang mirip tsunami kecil di tengah rawa (bukan di tengah lautan). Jung Huhn, yang menjelaskan ini adalah seorang Jerman ahli geologi (geolog) terkenal yang memulai karir atas penugasan Gubernur Jenderal Piter Merkus sebagai pemimpin ekspedisi pemetaan geologi dan botani di Tanah Batak pada tahun 1840. Setelah selesai tugas di Tanah Batak, Jung Huhn ditugaskan untuk melakukan pemetaan gunung di Jawa. Terakhir, Jung Huhn meneliti teh dan kini di Lembang (sebagai awal perkebunan kina di Preanger). Jung Huhn meninggal dan dimakamkan di Lembang tahun 1865.

Dengan demikian, telah terjadi dua kali fenomena yang dilaporkan tentang kejadian alam yang benar-benar terjadi di Rawa Pening Ambarawa. Besar kemungkinan kejadian-kejadian di Rawa Pening merupakan bagian dari rangkaian kejadian alam di Jawa. Di satu sisi telah terjadi proses kimia tanah di dalam tanah bawah rawa dan di sisi lalin terjadi proses fisika gempa di sekitar Rawa Pening (yang tidak jauh dari Gunung Merapi). Gempa bumi di Jawa jauh sebelum ini telah terjadi beberapa kali. Gempa bumi pertama dicatat tanggal 13 Februari 1684. Selanjutnya, terjadi gempa bumi pada 4 Januari 1699, 25 Januari 1769, 10 Mei 1772 dan disusul pada tanggal 22 Januari 1775. Gempa bumi berikutnya pada tanggal 19 Maret 1805 (lihat Almanak 1816). Pada masa transisi dari Inggris ke Belanda tahun 1815 terjadi kembali gempa bumi beruntun, yakni: tanggal 10 April 1815 lalu kesesokan harinya tanggal 11 April dan empat hari kemudian terjadi lagi tepatmya tangga; 15 April 1815. Gempa bumi tahun 1834 terbilang gempa bumi terbesar yang terjadi di Batavia. Gempa bumi ini tercatat telah menghancurkan Istana Buitenzorg. Padahal istana ini merupakan salah satu bangunan yang dibuat kokoh dan tahan lama karena tempat kediaman Gubernur Jenderal.

Dalam blog ini sejumlah artikel terkait adalah: Sejarah Jakarta (7): Gempa Bumi 1834, Istana Buitenzorg Hancur; Sungai Ciliwung di Batavia Makin Dangkal, Kanal Barat Dibangun 1918; Sejarah Kota Padang (38): Riwayat Banjir di Kota Padang, Dari Tsunami hingga Banjir Kanal (Banda Bakali); Sejarah Kota Padang (37): Daftar Panjang Gempa di Kota Padang; Tercatat Sejak 1797 (Tsunami) dan Gempa Besar 1926 (Bencana); Sejarah Semarang (6): Banjir Kanal Barat Semarang 1879; Banjir Kota yang Tidak Berkesudahan Picu Bangun Kanal Timur; Sejarah Bandung (5): Banjir Bandang Sudah Dari Dulu; Situ Aksan ‘Meniru’ Situ di Depok; Sejarah Kota Surabaya (13): Planologi Kota Surabaya Tempo Doeloe; Kanalisasi dan Pengembangan Pelabuhan Tanjung Perak.

Secara alamiah Rawa Pening adalah rawa yang asalnya dari vulkanik (lihat Abraham Jacob Aa. 1847 ‘Aardrijkskundig woordenboek der Nederlanden’). Kejadian aneh di Rawa Pening kerap disebut kejadi proses fermentasi (lihat Soerabaijasch handelsblad, 09-05-1885). Air di rawa ini sebagian besar berasal dari Kali Panjang. Air rawa ini kemudian jatuh melalui sungai Toentang menuju laut di Semarang. Kali Panjang dilaporkan telah sering memakan korban, sementara Kali Toentang belum pernah dilaporkan menimbulkan masalah. Dalam hal Rawa Pening, fakta-fakta alam adalah satu hal, sedangkan cerita mitologi atau legenda adalah hal lain.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

ARTIKEL DIAMBIL DARI:
https://poestahadepok.blogspot.com/2018/03/sejarah-semarang-18-rawa-pening-di.html?m=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silahkan Masukan jawaban pertanyaan ini, tulis dalam ANGKA saja *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top Footer