Jelang pengumuman KPU terkait hasil Pilpres 2019, pasukan keamanan bergerak untuk mengamankan ibu kota Jakarta dari serangan teroris. Lebih dari 32.000 tentara tengah digerakkan, untuk mengantisipasi kemungkinan serangan bom di antara protes dan unjuk rasa yang direncanakan oleh kubu oposisi. Langkah untuk meningkatkan keamanan, terutama di sekitar gedung KPU dan Bawaslu, muncul setelah polisi pekan lalu menggerebek sebuah sel teror yang telah menyiapkan bom.

Oleh: Francis Chan (The Straits Times)

Indonesia kini tengah mengerahkan lebih dari 32.000 tentara untuk mengamankan ibu kota Jakarta, menyusul sumber intelijen mengenai kemungkinan serangan teroris selama pengumuman hasil Pilpres 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pekan depan.

Instansi keamanan kini tengah berupaya menggagalkan dugaan rencana teror oleh kelompok militan lokal untuk meledakkan bom selama protes jalanan, yang diprediksi akan terjadi setelah hasil penghitungan suara resmi KPU diumumkan.

“Terdapat indikasi kemungkinan teroris akan melakukan serangan dalam aksi massa di gedung KPU,” menurut juru bicara kepolisian nasional Dedi Prasetyo, Senin (1/5). “Jadi kami mengambil upaya pencegahan untuk secara optimal menggagalkan tindakan teror seperti itu.”

Brigadir Jenderal Dedi mengatakan bahwa personel polisi dan militer juga akan membuat barisan keamanan di sekitar markas Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di pusat kota Jakarta. Gedung Bawaslu terletak di Jalan M.H. Thamrin, jalan raya utama tempat terjadinya serangan teroris tahun 2016 di Indonesia, serangan yang pertama kalinya diklaim oleh ISIS.

Pekan lalu, para pendukung calon presiden oposisi Prabowo Subianto mengadakan dua demonstrasi di depan Bawaslu untuk menekan lembaga pengawas pemilihan tersebut agar menindaklanjuti tuduhan kecurangan dalam Pilpres 2019.

Lebih banyak protes seperti itu diduga akan terjadi beberapa hari mendatang, dengan Prabowo tidak menunjukkan tanda-tanda siap menerima kekalahan atas kandidat presiden petahana Joko “Jokowi” Widodo. Hasil penghitungan cepat sejumlah lembaga survei maupun hasil penghitungan suara sementara KPU menunjukkan bahwa Jokowi kemungkinan besar akan memenangkan masa jabatan kedua setelah penghitungan suara resmi KPU selesai tanggal 22 Mei 2019.

Langkah untuk meningkatkan keamanan, terutama di sekitar gedung KPU dan Bawaslu, muncul setelah polisi pekan lalu menggerebek sebuah sel teror.

Kelompok teror tersebut dipersenjatai dengan bom rakitan dan memiliki kemampuan untuk menghindari perlindungan elektronik yang dibuat untuk mencegah bom diledakkan dari jarak jauh oleh teroris menggunakan ponsel atau pemancar radio. Pengacau sinyal tersebut adalah alat pertahanan efektif yang digunakan untuk melindungi kawasan besar tertentu dari alat peledak improvisasi (IED) yang dioperasikan dari jarak jauh.

Salah satu tersangka yang ditangkap selama penggerebekan oleh polisi anti-terorisme Indonesia hari Rabu (8/5) lalu telah memodifikasi mekanisme pengalihan IED sehingga sebuah bom dapat dipicu menggunakan teknologi Wi-Fi.

Artinya, tersangka teroris dapat menggunakan Wi-Fi untuk meledakkan bom jika sinyal ponsel biasa diblokir oleh polisi selama protes, menurut Brigjen Dedi. “Dengan itu, dia dapat menaruh bom mereka di beberapa ransel, kemudian dia akan meledakkannya dari jarak 1 kilometer misalnya,” ujarnya, merujuk pada tersangka teror yang dia identifikasi hanya dengan inisial EY.

Brigjen Dedi tidak mengungkapkan jumlah total tersangka yang ditangkap dalam serangan pekan lalu, tetapi ia membenarkan bahwa perburuan untuk anggota sel teror lainnya yang terkait dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) sedang berlangsung saat ini

JAD, kelompok militan lokal yang memiliki afiliasi dengan ISIS, bertanggung jawab atas serangkaian teror di Indonesia, termasuk serangan tahun 2016 di Jakarta yang terinspirasi ISIS, serta bom bunuh diri terkoordinasi di tiga gereja dan kantor polisi setempat di Surabaya bulan Mei 2018 yang menewaskan 14 orang

EY dan tersangka kedua ditangkap secara terpisah hari Rabu (8/5) di Jakarta Timur dan Bekasi, berdasarkan informasi dari tersangka teror ketiga yang ditangkap oleh polisi awal minggu ini.

Brigjen Dedi mengatakan bahwa sementara polisi tetap menjadi target utama JAD, kerumunan besar pengunjuk rasa yang berkumpul di luar KPU, misalnya, juga akan menjadi sasaran empuk bagi para militan. Dedi menambahkan bahwa para teroris berharap bahwa keberhasilan mereka dalam meningkatkan serangan skala besar akan menghidupkan kembali sel-sel tidur lainnya di seluruh Indonesia.

Francis Chan adalah kepala biro The Straits Times di Indonesia.

Keterangan foto: Militer Indonesia bersiap menjaga proses Pilpres 2019 tanggal 14 April silam di Jakarta. Instansi keamanan kini tengah berupaya menggagalkan dugaan rencana teror oleh kelompok militan lokal untuk meledakkan bom selama protes setelah hasil resmi KPU diumumkan. (Foto: Reuters)

Sumber artikel www.straitstimes.com